Jumat, 28 Desember 2012

OBJEK PENILAIAN DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS


Produk ilmiah (fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori) dalam pembelajaran sains diterapkan untuk siapa?
Secara garis besar, sains memiliki tiga dimensi/komponen, yaitu: (1) produk ilmiah, (2) proses ilmiah, dan (3) sikap ilmiah (Patta Bundu, 2006: 11). Pembelajaran sains merupakan cara yang dilakukan agar peserta didik memperoleh produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Sains sebagai produk berisi fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori. Fakta merupakan pertanyaan atau pernyataan tentang benda yang benar-benar ada atau peristiwa yang benar-benar terjadi dan telah dibuktikan secara empiris. Konsep merupakan suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta yang saling berhubungan. Prinsip merupakan generalisasi tentang hubungan diantara konsep-konsep sains. Hukum adalah prisnsip yang telah diterima kebenarannya secara umum. Teori merupakan kerangka hubungan yang lebih luas antara fakta, konsep, prinsip, dan hukum.  Produk ilmiah (fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori) dalam pembelajaran sains diterapkan pada peserta didik sehingga peserta didik sebagai ilmuwan dapat menjelaskan gejala alam yang ada di lingkungan sekitarnya.

Proses ilmiah dalam pembelajaran sains terkait dengan keterampilan proses yang dikuasai peserta didik. Keterampilan proses apa yang seyogyanya dimiliki peserta didik pada tingkat SD, SMP, dan SMA?
Keterampilan proses sains adalah sesuatu yang ilmuwan sains lakukan ketika mereka belajar dan melakukan penyelidikan (Rezba, 1995: vii). Menurut Rezba (1995: 1) keterampilan proses sains dibedakan menjadi keterampilan-keterampilan dasar proses sains (basic science process skills) dan keterampilan-keterampilan terpadu proses sains (integrated science process skills). Harlen dalam Patta Bundu (1996: 24) menyatakan bahwa dalam pembelajaran di Sekolah Dasar (SD), terdapat lima jenis keterampilan proses yang harus dikuasai yaitu: mengobservasi, merencanakan, membuat hipotesis, menginterpretasi data, dan mengkomunikasikan. Pembelajaran di SMP dan SMA sebaiknya direncanakan agar peserta didik mampu menguasai keterampilan proses yang lebih tinggi yaitu keterampilan proses terintegrasi.
  
Apa yang pertama kali disampaikan seorang guru SD terkait materi IPA?
Berikut ini uraian hasil wawancara dengan seorang guru Sekolah Dasar yaitu Bapak Alip Apriyanto, S.Pd. yang merupakan guru Kelas V SD N Karangmangu 1 Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap.
“Guru mengajarkan IPA dengan metode yang bervariasi. Metode yang dilakukan antara lain: ceramah, pengamatan, diskusi, dan lain-lain. Metode pembelajaran yang dilaksanakan disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajarannya. Ketika pertama kali masuk ke kelas, guru menyampaiakan tujuan pembelajaran dan apersepsi. Setelah apersepsi, guru mulai memberikan materi pembelajaran. Guru banyak memberikan pertanyaan kepada peserta didik untuk mengajak peserta didik berfikir. Guru berusaha menggali pengetahuan yang dimiliki peserta didik dan mengupayakan agar peserta didik memperoleh pengetahuannya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan biasanya berkaitan dengan lingkungan alam yang ada di sekitar peserta didik. Peserta didik diminta mengamati dirinya dan alam sekitarnya.”
Berdasarkan pernyataan tersebut tersirat bahwa guru berusaha mengajak peserta didik mengamati lingkungan. Keterampilan proses yang diharapkan muncul kegiatan ini adalah keterampilan mengobservasi.

Bagaimana cara menilai dengan akurat sebuah program? Hal tersebut dalam artian bahwa apa yang dinilai adalah hasil dari program.
Penilaian dalam pendidikan dikaitkan pada penetapan posisi dan kemampuan peserta didik selama dan setelah mengikuti program pendidikan atau pembelajaran. Penilaian yang akurat artinya penilaian tersebut benar-benar menilai apa yang seharusnya dinilai. Penilian yang dilakukan harus sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian serta menghindari kesalahan dalam pengukuran. Beberapa prinsip penilaian yang disampaikan Grounlund dan Linn dalam Bambang Subali (2009: 5) yaitu: (1) harus ada spesifikasi yang jelas apa yang akan dinilai, (2) harus komprehensif, (3) harus dapat memilih alat penilaian yang sesuai, dan (4) harus jelas maksud dari penilaian yang dilakukan. Sedangkan hal-hal yang harus dihindari terkait kesalahan pengukuran  yaitu: (1) kesalahan dalam mengolah data, (2) pengaruh penilaian sebelumnya, (3) menilai mahal atau murah, (4) pengaruh kesan luar, dan (5) pengaruh hallo effect.


DAFTAR PUSTAKA
Bambang Subali. (2009). Diktat Perkuliahan Evaluasi dan Remediasi dalam Pembelajaran Biologi Mengakomodasi Kurikulum Terbaru. Yogyakarta: FMIPA UNY
Patta Bundu. (2006). Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah Dalam Pembelajaran Sains SD. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti

28 Desember 2012
Ayu Rahayu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar