Rabu, 14 Maret 2012

REFORMASI PENILAIAN PADA PENDIDIKAN (ASSESSMENT REFORMS IN EDUCATION)

Oleh Ayu Rahayu, S.Pd 

1.        PENDAHULUAN
Pembelajaran merupakan proses membuat seseorang memperoleh pengetahuan atau keterampilan serta perubahan tingkah laku. Istilah pembelajaran dimodelkan sebagai suatu system yang terdiri atas komponen masukan, komponen proses, dan komponen keluaran. Komponen masukan terdiri dari peserta didik, instrumental, dan lingkungan. Komponen proses terdiri dari proses pembelajaran. Komponen keluaran terdiri dari hasil pembelajaran (hasil belajar).
Penilaian hasil belajar atau assessment  merupakan cara-cara menginterpretasikan hasil pengukuran di bidang pembelajaran yang berupa skor menjadi nilai (angka, huruf, atau sebutan/ kriteria) dengan cara  tertentu (Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acuan Norma). Sejalan dengan  perkembangan bidang pendidikan maka bidang penilaian hasil belajar juga berkembang. Pembaharuan dalam bidang penialaian pendidikan secara tidak langsung akan berpengaruh pada pembaharuan kurikulum. Penilaian merupakan salah satu kekuatan pendorong untuk kemajuan kurikulum di suatu negara, termasuk negara Amerika Serikat. Selama reformasi pendidikan, di negara Amerika Serikat juga terjadi reformasi dalam bidang penilaian.
Dalam tullisan ini akan disampaikan mengenai sejarah reformasi penilaian pada pendidikan di negara Amerika Serikat seta contoh teknik penilaian yang dapat digunakan pada tingkat satuan pendidikan.

2.        PEMBAHASAN
a.         Sejarah Reformasi Penilaian pada  Pendidikan di Negara Amerika Serikat
Pada tahun 1980an strategi penilaian yang ada di Amerika Serikat dinilai tidak sesuai dengan teori belajar, teori mengajar, teknologi pendidikan, dan kemajuan kurikulum. Skor pada tes standar yang dibuat guru tidak mengungkap seluruh aspek pencapaian yang diperoleh peserta didik. Format tes yang berbentuk pilihan ganda dikritik oleh sebagian besar pengamat karena lingkupnya yang terlalu sempit dan tidak relevan dengan penilaian untuk keterampilan berpikir tingkat tinggi (Dowling 1988).
Kecenderungan ilmu pendidikan saat itu bergerak menuju pembelajaran yang mencakup lima domain ilmu pendidikan, oleh karenanya  penilaian juga harus demikian (Yager 1987).
Kelompok NAEP (National Assessment of Educational Progress- Penilaian Nasional tentang Kemajuan Pendidikan) kemudian melakukan penelitian mengenai penggunaan Penilaian Berbasis Kinerja (Performance Based Assesment).  Pada penilaian berbasis kinerja ini peserta didik mendemonstrasikan kemampuan pemecahan masalah menggunakan peralatan laboratorium untuk menyelesaikan maslah-masalah yang berkaitan dengan sains. Penelitian penilaian berbasis kinerja diujikan pada kelas 3, 7 dan 11. Contoh penilaian ini untuk menilai bagaimana kemampuan peserta didik untuk mengklasifikasikan (classifying), mengamati (observing), menyimpulkan (conclusing) dan berhipotesis (hypothezing), mendeteksi pola (detecting a patern), dan mendesain dan melaksanakan eksperimen (design and conduct experiments) (NAEP 1987).
Modul tes autentik (hands-on authentic testing) kemudian ditemukan sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Para peneliti percaya tes ini akan berguna untuk mempelajari hubungan antara latar belakang dan pendekatan pemecahan masalah terhadap kinerja peserta didik. BSCS (Biological Science Curriculum Study Kelompok Studi Kurikulum Ilmu Biologi) merupakan salah satu kelompok di tingkat nasional yang mengarahkan perhatian kepada penilaian autentik. Penilaian autentik tidak dapat terpisah dari kegiatan pembelajaran dan kemajuan pembelajaran. BSCS dan NAEP melakukan langkah untuk mempromosikan model penilaian berbasis kinerja, mengobservasi secara nasional kinerja peserta didik, dan mendokumentasi karya peserta didik melalui koleksi portfolio prestasi mereka.
Menurut Loucks-Horsley et al (1990), untuk mendorong pencapaian  praktek penilaian ini maka teknik penilaian yang dapat dilakukan antara lain: (1) portofolio (portfolios), (2) laporan diri (self-reports), (3) konsep pemetaan (concept mapping), (4) analisis penelitian (problem analysis), (5) analisis masalah (research analysis), (6) tes praktek laboratorium (practical laboratory tests), (7) permainan dan simulasi (games and simulations), (8) tes di luar kelas (out-of-doors tests), (9) penilaian berbasis computer (computer-based assessment), (10) tes kooperatif (cooperatives tests), (11) proyek membangun (constuction projects), dan (11) jurnal (journal).

b.        Penilaian Autentik Pada Tingkat Satuan Pendidikan
Penilaian autentik merupakan bagian dari penilaian kinerja yang berusaha mengukur atau menunjukkan pengetahuan dan ketrampilan siswa dengan cara menerapkan pengetahuan dan ketrampilan itu pada kehidupan nyata. Penilaian autentik  merupakan konsep besar yang meliputi sistem pengukuran hasil belajaar dalam bentuk “produk intelektual yang bernilai, signifikan, dan bermakna”. Bilamana guru menerapkan model penilaian otentik untuk menghimpun informasi mengenai prestasi siswa, maka guru menerapkan berbagai kriteria yang berkenaan dengan ‘ konstruksi ilmu pengetahuan, disiplin dalam melakukan penelitian, serta nilai-nilai yang dapat siswa kuasai sesuai dengan harapan sekolah.
Konsep penilaian autentik telah dikembangkan oleh Ralph Tyler.  Pada tahun 1935  Ralph Tyler menyatakan ada dua perbedaan besar dalam mevaluasi hasil belajar siswa. Dua pendekatan besar meliputi pertama tes dan kuis dan kedua model pengumpulan sampel produk belajar sepanjang tahun. Jika satuan waktu belajar siswa per semester, maka penilaian berlangsung pula selama itu.
Kelebihan penggunaan model penilaian otentik, yaitu: (1) Siswa berperan aktif dalam proses penilaian. Pada fase ini dapat mengurang rasa cemas, takut mendapatkan nilai jelek yang dapat menggganggu harga dirinya. (2) Penilaian autentik berhasil digunakan dengan siswa dari berbagai latar belakang budaya, gaya belajar, dan kemampuan akademik. (3) Tugas yang digunakan dalam penilaian otentik lebih menarik dan mencerminkan kehidupan sehari-hari siswa. (4) Sikap yang lebih positif terhadap sekolah dan belajar dapat berkembang. (5) Penilaian otentik mempromosikan pendekatan yang lebih berpusat pada siswa untuk mengajar. (6) Guru memegang peran lebih besar dalam proses penilaian selain melalui program pengujian tradisional. keterlibatan ini lebih mungkin untuk memastikan proses evaluasi mencerminkan tujuan dan sasaran program. (7) Penilaian otentik menyediakan informasi yang berharga kepada guru pada kemajuan siswa serta keberhasilan instruksi. (8) Orang tua akan lebih mudah memahami penilaian otentik dari persentil abstrak, perangkingan, dan  pengukuran  lain tes standar. (9) Penilaian autentik baru untuk kebanyakan siswa. Mereka mungkin curiga pada awalnya, tahun pengkondisian dengan paper tes,, mencari jawaban yang benar tunggal, tidak mudah dibatalkan. (10) Penilaian otentik memerlukan cara baru untuk merasakan bahwa dia sedang belajar dan dievaluasi. (11) Peran guru juga berubah. Tugas khusus, baik dalam bentuk pekerjaan maupun dalam bentuk pengasaan pengetahuan dan keterampilan haru  harus diidentifikasi secara jelas di awal. (12) Dengan penilaian autentik maka siswa dapat memulai sesuatu yang berbaik skala kecil dan dari awal.

3.        KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dalam makalah ini yaitu:
a.        Sejarah reformasi penilaian pada bidang pendidikan di negara Amerika Serikat dapat diketahui bahwa pada tahun 1980an strategi penilaian yang ada hanya mencakup aspek kognitif saja. Reformasi penilaian terjadi pada tahun 1990an sebagai implikasi kecenderungan ilmu pendidikan yang bergerak menuju pembelajaran dengan cakupan lima domain ilmu pendidikan.
b.     Penilaian autentik merupakan bagian dari penilaian kinerja yang berusaha mengukur atau menunjukkan pengetahuan dan ketrampilan siswa dengan cara menerapkan pengetahuan dan ketrampilan itu pada kehidupan nyata.

DAFTAR PUSTAKA
Alan J McCormack. (1992). Science Curriculum Resource Handbook. New York: Krauss International Publication.
Mimin Haryati. (2007). Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar